Daftar Isi

Jumat, 16 Juni 2017

#GameLevel5 #Tantangan10Hari #KuliahBunSayIIP #ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Ade Mogok Baca

Rasanya berat sekali jika kita mengajak anak untuk melakukan sesuatu tapi tidak dari hati. Seperti beberapa hari ini, dalam rangka membangkitkan semangat membaca anak, di Kulwap Bunsay IIP sedang dilatih untuk menstimulus anak supaya suka membaca. Semua harus dimulai dari sang ibu. Ibu yang memberi contoh dulu, baru kemudian mengajak anak.

Ya, sudah beberapa hari ini Ade mogok, tidak mau diajak membaca buku. Mungkin karena saya mengajaknya tidak dengan hati. Karena ketika saya ada waktu untuk membacakan Ade sebuah buku, pikiran saya masih fokus pada pekerjaan, badan saya letih, dan waktunyapun hanya sisa.

Okelah, saya biarkan Ade melewati harinya tanpa membaca, walaupun saya merasa punya utang gitu, merasa ada yang kurang. Tapi dipaksa juga tidak akan baik hasilnya.

Suatu malam adik saya datang dan menemani Ade bermain, padahal saya tidak memintanya untuk mengajak Ade baca buku. Setelah lelah bermain sama bibinya, Ade merajuk adik saya untuk menemaninya tidur. Alhamdulillah, tanpa diminta saya, Ade memilih sebuah buku untuk dibacakan bibinya sebelum tidur.

“Ma, buku si Kancil mana? Kok gak ada?!”

Teriak Ade, rupanya buku itu tertumpuk buku-buku yang lain.

“Ini boleh gak, Bi?” terdengar suara Ade lagi. Kemudian bibi mulai membacakan buku novel anak yang berjudul 'Mami kepo’ dan setelah lama kemudian Ade tertidur, belum selesai tuh bukunya. Tapi saya senang, Alhamdulillah!

Sabtu, 10 Juni 2017

#GameLevel5 #Tantangan10Hari #KuliahBunSayIIP #ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Yuk, baca lagi!

“Ma, Ade mau baca buku lagi” bisik Ade. Sepulang sholat subuh berjamaah di Masjid. Alhamdulillah lega rasanya jika Ade sendiri yang minta baca buku. Biasanya saya yang ngajak bahkan maksa hehe…

“Ade mau baca buku apa?”

“Panggung si Kancil lagi ah, boleh ya “ rayunya

“Ahhh...bossyeenn” canda saya. Iya sih bosen juga jika tiap hari bacain buku itu terus. Bagi Ade mungkin menyenangkan, tapi bagi saya sangat membosankan karena buku itu sering saya bacakan juga buat 4 kakaknya. Sampai isinya hafal diluar kepala. Buku komik itu memang isinya tentang cerita lucu. Lagipula, masih banyak buku-buku baru yang isinya beragam. Saya sengaja membelinya beberapa paket dari Pustaka Lebah khusus buat anak-anak.

“Ade mau pilih yang mana?” Saya biarkan Ade mengambil buku yang akan saya bacakan. Awalnya memilih buku  Miracle of Islam bidang Social politics hanya dilihat-lihat gambarnya kemudian ditutup lagi.

“Eh, ada cerita mesin jahit mama disini!” teriak saya sambil menunjukkan gambar di buku tentang penemuan (Everyday life Invention) Masih dari penerbit Pustaka lebah. Adepun tertarik dan mendekat. Kemudian saya bacakan kisah tentang penemuan jarum dan mesin jahit.

Sayangnya Abang tidak ada di rumah karena ikut menginap di rumah sepupunya. Tapi Ade tidak sendiri, dia ditemani Haritsa sepupunya yang lain.

Alhamdulillah

Jumat, 28 April 2017

#Games level 4 #Tantangan 10 hari #kulwapbunsayiip #Gaya belajar

#Games level 4

#hari ke 8

#kulwapbunsayiip

#Gaya belajar

Bismillah,

Ngajak Abang dan Ade belajar berhitung. Alhamdulillah Abang sudah bisa menjumlahkan Sampai ratusan, tapi hari ini Abang masih antusias belajar tentang jam. Jam tangan barunya tak pernah dilepas tari tangannya. Kecuali sedang mandi atau wudlu. Jam tangan Ade malah dicuri orang ketika sedang wudlu di Mesjid, ah biarlah Ade belum antusias banget untuk belajar tentang konsep waktu. Sedangkan Abang, terus mengoceh membaca jam di pergelangan tangannya. Sedikit-sedikit berteriak, “Ma, sekarang sudah pukul tujuh kurang lima menit!” dan waktu lainnya.

Ketika Abang pergi sekolah Ade ikut saya belanja kain untuk pesanan gamis. Kami berjalan kaki menuju toko. Di kota kami sepanjang trotoar ada tulisan “Jago” dengan gambar kepala ayam pelung jantan. Itu simbol kota kami.

Nah, setiap berjalan di trotoar Ade selalu bilang, “Ma, Ade mau hitung ayam jagonya”

Diapun mulai berhitung dari angka satu. Dari depan gang rumah kami sampai tujuan. Jarak antara satu kotak ayam jago kurang lebih satu meter setengah. Ade berhitung dengan suara keras, kalau lupa angkanya, dia suka merem dulu, terus lanjut berhitung,

“Eh, berapa tadi , Ma?”saya diam berusaha tak membantu

“Habis tujuh puluh empat, tujuh puluh lima ya?”

“Ya!” Ade pun lanjut berhitung sambil terus berjalan, tangannya tidak lepas dari genggaman saya. Kalau lupa berhenti lagi sebentar sambil merem mengingat angkanya hehehe...kadang saya suka tertawa sendiri melihatnya.

“De, ada berapa ayam jagonya?” tanya saya saat sudah sampai toko kain.

“Dua ratus tujuh belas….” Ade nampak kecapean, haha...tapi Ade kelihatan senang sekali sudah berhasil menghitung ayam jago dalam kotak lagi

Selasa, 14 Maret 2017

#aliran rasa #melatih kemandirian #kulwapbunsayiip

#aliran rasa

#melatih kemandirian

#kulwapbunsayiip

Ternyata melatih anak untuk mandiri itu harus dibiasakan sejak kecil. Setidaknya kita sebagai orangtua harus rajin memberi contoh dengan cinta bukan dengan paksaan. Kemandiriannya dimulai dari hati artinya sang anak dilatih untuk disadarkan atau dididik supaya latihan Kemandiriannya betul-betul dari hati BUKAN karena takut dimarahi orangtua, bukan karena takut tidak dikasih jajan atau iming-iming lainnya.

Ada perbedaan antara kemandirian dua anak saya Abang dan Ade serta tiga kakaknya. Aa, kaka dan teteh memang sudah mandiri sejak kecil. Almarhum mendidik mereka untuk mandiri tapi dengan pola asuh yang salah. Pola yang digunakannya adalah pola yang digunakan nenek moyang, pola asuh jadul. Pola asuh dengan paksaan dan ancaman, bukan dengan pola asuh yang seperti saya lakukan sekarang. Dulu kami belum banyak tahu tentang parenting. Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa yang kami lakukan pada anak-anak.

Hasilnya jauh sekali, Aa, kaka dan teteh, bisa mandiri ketika ada ayahnya saja. Mungkin karena takut. Sekarang sudah tidak ada mereka justru tidak mandiri. Dalam beberapa hal tentunya.

Saya introsfeksi, mereka seperti itu karena kami melatihnya dengan paksaan bukan dengan cinta dan bimbingan. Mereka begitu karena cara mendidik kami terlalu keras, kami ingin menggegas anak supaya lekas bisa. Kami tak peduli prosesnya menyenangkan atau tidak, kami hanya ingin mereka bisa. Kami memang orangtua yang egois. Kamipun hanya menjejali anak dengan ilmu dan informasi tanpa menggali apa sebenarnya potensi dan bakat yang anak miliki.

Sekarang…

Menangislah saya,

Menangis dalam kesendirian tanpa ada bahu kekar yang siap menerima tumpahan airmata saya. Menangis dalam kesunyian…

Introsfeksi diri,

Merenung,

Mengadu sama sang Khalik,

Meminta maaf atas semua kekeliruan dalam mendidik anak.

Alhamdulillah,

Ada secercah cahaya yang Allah berikan. Berupa ilmu pengetahuan dan bimbingan dari para pakar pendidikan dan parenting di komunitas yang saya ikuti seperti IIP dan group HeBat.

Syukurku tiada tara,

Motto saya sekarang

It’s never too late to forgive and forget.

Merancang kembali ketertinggalan dan kekeliruan dalam mendidik lima buah hati sendiri.

I am a single fighter

And I can!

*Untuk 5 yatimku, maafkan Mama yang belum bisa mendidik kalian dengan baik.

Cianjur, 15 Maret 2017

Selasa, 07 Maret 2017

#hari ke 12 #melatihkemandirian

#hari ke 12

#melatih kemandirian

#kulwapbunsayiip

Bismillah,

Perkembangan kemandirian Abang sudah ada kemajuan. Abang berani tidur tanpa ditemani saya lagi. Padahal rencananya melatih Abang tidur sendiri baru minggu depan hehe.

Minggu ini sebenarnya masih melatih Abang untuk bisa menyimpan dan merapihkan pakaian serta sepatu sendiri. Sudah berjalan hampir empat hari. Abang masih belum mau merapihkan pakaiannya sendiri. Kalau sepatu Alhamdulillah walaupun masih angin-anginan. Kadang mau kadang tidak.

“Abang hati-hati nyimpen bajunya, nanti kusut”

Abang tak faham.

“Abang tolong digantung seragamnya ya, kan besok dipakai lagi”

“Sama Mama aja”

“Kenapa?”

“Abang gak bisa!”

“Ayo sama mama bareng-bareng!”

Awalnya sih iya, Abang melipat atau menggantung pakaiannya, tapi...bruk! Abang menyimpannya tidak pada tempatnya. Akhirnya baju Abang tetap kusuttt…

Hemmm…

Alhamdulillah Kalau Ade sudah mulai mau berlatih menyimpan dan merapihkan alat tulis sendiri

#hari11#melatihkemandirian #kulwapbunsayiip

#hari 11

#melatih kemandirian

#kulwapbunsayiip

Bismillah,

Tarik nafas dalam...banget!

Sudah dua hari melatih Abang untuk mengambil dan merapihkan pakaian serta sepatu sendiri belum ada hasilnya. Setiap saat Abang mau menggunakan pakaian selalu saya ingatkan. Mungkin komunikasinya masih gaya lama. Nada menerintah, harus diisnstrospeksi nih!

Masih ada waktu, belum terlambat. Saya akan terus berusaha.  Setiap hari sampai Abang bisa.

Rasa kecewaku pada Abang terobati oleh kemajuan Ade. Selama dua hari dilatih ada kemajuan. Ade sudah mau mengambil dan merapihkan alat tulisnya baik di rumah maupun ketika di sekolah. Bahkan Ade suka marah jika saya ikut membantunya.

Sabtu, 04 Maret 2017

#hari10 #melatih kemandirian

#hari ke 10

#melatih kemandirian

#kulwapbunsayiip

Bismillah,

Ade menangis karena baju yang dicarinya tidak ada. Ternyata masih basah di jemuran. Ade maksa mau pakai baju itu. Hemmm...anak-anak selalu begitu, kalau udah mau pakai baju yang itu suka keukeuh.

Baju Ade memang tinggal sedikit karena sudah pada sempit akhirnya diberikan pada orang lain. Saya rayu Abang supaya mau memberikan bajunya yang sudah kekecilan untuk Ade. Tapi Abang menolak. Abang hanya mau meminjamkan. Moment ini saya gunakan untuk melatih mereka merapihkan baju.

“Lihat! Baju Ade ada berapa lagi?” Ade dan Abang antusian menghitung bajunya

“ ahhh ...baju Ade cuma sedikit!”

“Engga apa-apa nanti berdoa sama Allah minta diberi baju baru, ya!” Ade mengangguk senang.

“Abang donk paling banyak bajunya!”

“Tapi belum rapih ya, ayo kita rapihkan!” Abang melipat kembali baju-baju yang berantakan. Setiap mengambil baju Abang selalu mengacaknya.

“Nanti kalau ambil baju begini caranya…” Saya memberi contoh. Abang memperhatikan

“Gampang, kan?” Abang tersenyum.

“Kalau diacak nanti bajunya kusut lagi”

Abang tertawa. Ade sibuk dengan lemarinya. Kalau urusan penampilan Ade lebih peduli daripada Abang.

Sore hari Ade mencari pensilnya. Pensil kesayangan pemberian dari bibinya.

“Ma, pensil Ade mana?”

“Mama engga lihat sayang”

“Atuh dimana? Ade mau menebalkan!”

“Ade tadi nyimpen dimana?”

“Gak tau!”

Kesempatan emas untuk melatihnya merapihkan alat tulis.

“Boleh mama bantu?”

“Ya…”

Kami sibuk berdua mencari pensil berwarna pink itu. Di tiap tempat pensil, di kotak mainan, di tumpukan buku. Belum ketemu juga. Ternyata, ada di kolong lemari buku.

“Capek ya nyari pensilnya”

Ade mengangguk wajahnya senang karena pensil kesayangannya sudah ketemu.

“Alat tulis Ade ada di tas, gak?”

“Gak tau…”

“Ayo kita kumpulkan dan simpan di tas!”

Kami berdua sibuk mencari semua alat tulis Ade dan menyimpannya di tas.

“Besok kalau habis belajar simpen lagi di tas, ok!” Ade hanya tersenyum.