Daftar Isi

Sabtu, 28 September 2013

Naskah Gagal


  Merajut silaturahmi,
Mendulang rezeki.
Oleh : Aisha Khairunnisa
            Rasa khawatir menyergap beberapa bulan sebelum bulan Ramadhan tiba di tahun ini, yang ada dalam benak saya dan selalu mengganggu pikiran saya adalah, apakah saya akan mampu membiayai anak-anak saya sendirian?. Apakah saya bisa membelikan anak-anak pakaian dan sepatu untuk hari lebaran? Apakah saya akan sanggup memenuhi kebutuhan anak-anak sebelum dan sesudah bulan Ramadhan yang biasanya harga-harga di bulan ini selalu menjulang tinggi, senyuman kecut menghiasi wajah saya suatu hari, kening pun mulai berkerut, berfikir keras untuk mencari solusi, karena saya yakin, anak-anak belum siap dengan keadaan sekarang, mereka belum faham dengan kondisi keuangan keluarga setelah ditinggal ayah mereka, karena mungkin mereka sudah terbiasa senang ketika ayahnya masih hidup dulu, dan momen lebaran adalah momen yang paling dinanti dan membahagiakan bagi lima krucil saya, selain mendapat uang THR karena berhasil menjalani puasa penuh setiap hari, mereka pun mendapatkan beberapa potong baju baru dan sepatu atau sandal baru.
            Huff! Beban ini terasa berat menghimpit dada! Hanya untaian do’a yang saya panjatkan di setiap waktu, mudah-mudahan ada jalan keluar. Aku yakin Tuhan tak akan membiarkan hambaNya jika ia meminta kepadaNya, itu janjiNya dalam kitab suci.
            Bulan Sya’ban pun tiba, saya semakin gelisah, karena usaha saya dalam penjualan beras masih terlihat datar-datar saja, keuntungan dari beras hanya  cukup untuk makan sehari-hari, untuk kebutuhan lain terpaksa harus merogoh uang tabungan peninggalan almarhum suami. Beban di pundak terasa lebih berat! Tapi saya tidak boleh menyerah! Kalau saya menyerah, bagaimana nasib anak-anak saya?. Saya terus berpikir keras untuk mencari solusi, selain berdo’a dan terus berdo’a.
Kemudian saya teringat akan nasihat seorang ustadz di Pesantren dulu, beliau berkata
“Jika kalian ingin diluaskan rezeki, maka bersilaturahmilah! karena Rasulullah juga mengajarkan itu, yakinlah bahwa silaturahmi itu akan meluaskan rezeki, menambah saudara dan teman, memanjangkan usia dan membuat awet muda!” masih terbayang senyum pak Ustadz ketika menerangkan sebuah hadits tentang manfaat silaturahmi.
Ahh senangnya, wajah saya kembali ceria!, kebetulan juga teman-teman di FLP ( Forum Lingkar Pena ) Cianjur selalu mengajak saya untuk bersilaturahmi, berkumpul setiap hari ahad, kami menyebutnya pekanan, dalam pekanan ini kami saling memberi ilmu tentang kepenulisan, dan juga kami bisa saling bertukar informasi masalah bisnis, silaturahmi yang sangat multiguna, selain mendapat ilmu tulis menulis juga mendapat relasi bisnis!
Diluar pekanan dengan FLP saya pun mulai merajut silaturahim dengan sudara-saudara yang jauh dan yang dekat, dengan tetangga, dengan teman-teman facebook, dan sebagainya. Silaturahmi saya jalin tidak hanya face to face tapi juga lewat SMS dan chatting di Facebook, tenyata dengan kecanggihan teknologi semua menjadi mudah, alhamdulillah!. Saya menawarkan barang dagangan saya kepada siapapun yang membutuhkannya.
            Awalnya saya malu-malu untuk menawarkan barang dagangan saya pada teman-teman, namun ternyata mereka juga sama-sama doyan bisnis, ada dianatara mereka yang menawarkan kerudung, parfum, dan lain sebagainya, kamipun saling  bertukar barang untuk dipasarkan, semakin banyak teman dan saudara yang saya hubungi, semakin besar peluang untuk menawarkan barang yang saya jual, mulai dari beras, pakaian, alat sholat, Al-Quran, dan barang elektronik serta barang kebutuhan rumah tangga lainnya. Selain itu saya pun membuat kartu nama melalui bantuan seorang teman di IIDB ( Ibu-ibu Doyan Bisnis ), ternyata dengan kartu nama sangat membantu, mereka tidak akan lupa nomor handphone saya dan juga akun facebook serta twitter saya, jadi ketika ada pesanan barang mereka tidak hanya memintanaya lewat SMS atau telepon tapi bisa juga lewat inbox di Facebook.
            Sebagian besar barang dagangan pun saya membelinya secara on line, beras dipesan lalu diantar sampai rumah, begitu juga dengan barang-barang lainnya, hanya sebagian kecil yang saya beli di toko grosir dekat rumah, itupun hanya untuk barang yang sesuai pesanan pembeli dan tidak tersedia di rumah, sehingga  waktu untuk mengurus rumah tangga dan anak-anak pun tidak terlalu tersita, yang penting bisnis lancar dan berkah, rumah tangga tetap terurus dan anak-anak terawat dan terawasi dengan baik, saya pun mulai disiplin membuat pembukuan sederhana, sehingga tidak ada barang atau uang yang hilang sia-sia.
            Setelah merajut silaturahmi kesana kemari, alhamdulillah di bulan Ramadhan pembeli mulai berdatangan, sayapun tidak memasarkan barang dagangan saya sendirian, namun dibantu beberapa teman dan saudara, ada yang memesan mukena beberapa kodi untuk dijual lagi, ada juga yang memesan pakaian dan alat rumah tangga hingga handphone, senangnya!, saya hanya tinggal di rumah menunggu para reseller melaporkan hasil jualannya, dan menghitung keuntungan serta modal yang kembali, serta tak lupa menyisihkan sedikit sedekah sebagai tanda syukur atas rezeki yang telah dititipkan Allah terhadap saya dan keluarga.
            Ternyata tidak hanya mukena dan pakaian saja yang laku di bulan Ramadhan, beras pun mengalami peningkatan penjualan karena banyak yang membutuhkan beras untuk membayar zakat fithrah yang diwajibkan untuk setiap muslim di akhir bulan Ramadhan, ada yang membeli hingga lebih dari tiga kwintal untuk dijual kembali, belum lagi tetangga di sekitar rumah yang membeli untuk Zakat Fithrah sekaligus untuk kebutuhan hariannya, alhamdulillah, setelah dihitung-hitung beras habis terjual hampir satu ton dalam waktu dua minggu, mendapat keuntunganpun hingga dua kali lipat, karena harga beras sedang naik dan juga ditambah dari penjualan beras ketan yang meningkat tajam, baik ketan putih maupun ketan hitam, karena di bulan Ramadhan atau menjelang hari raya Idul Fitri banyak orang yang mau membuat penganan khas lebaran yaitu tape uli, atau tape ketan hitam dan uli ( di daerah sunda disebut ‘Ulén’) dari ketan putih, ditambah lagi dagangan di warung yang saya tambah dagangan lain  selain beras, yaitu telur, minyak, terigu, tepung kanji, gula merah dan gula putih, tak lupa margarine dan bahan untuk kue yang lainnya, alhamdulillah kami pun mendapatkan berkahnya bulan Ramadhan yang dijanjikan Allah SWT!
            Bulan syawal pun tiba, silaturahmi semakin erat dirajut, ternyata mereka teman bisnis maupun konsumen, baik dari kalangan saudara maupun dari teman-teman, saling memberi janji, insha Allah jika ada waktu dan usia, jika Tuhan memberi ijin, kami akan terus menjalin bisnis bersama, bisnis yang tidak hanya memberi keuntungan duniawi semata, namun sekalian menjaga silaturahmi! Aamiinn!
            Maka yakinlah, jika silaturahmi itu bisa mendatangkan rizki dan mendapatkan saudara dan relasi yang baru, inshaa Allah!

4 komentar: