Daftar Isi

Sabtu, 28 September 2013

Naskah Gagal


Aku Pasti Bisa!
Oleh : Aisha Khairunnisa
            “Ma! Bisa engga nanti ngurus anak sendirian?” tanya suamiku beberapa hari sebelum beliau pergi menghadap Sang Khalik,
            “Ya, insha Allah! Kan ada Allah!” jawabku seraya berlinang air mata, padahal hati ini terasa diris-iris, beliau sepertinya sudah tahu kalau akan segera meninggalkan aku dengan lima permata hatinya.
***
            Kini pertanyaan itu selalu menggelayuti pikiranku, apakah benar aku bisa? Apakah benar aku mampu? Padahal pada kenyataanya hidup tanpa suami begitu sulit kurasakan, benar-benar sulit! Mungkin karena aku terbiasa “dihuapan” ( disuapi ), segala disediakan suami, apa-apa tinggal minta ke suami, begitu juga dengan kebutuhan anak-anak, tak ada yang tidak dicukupi oleh suami, dari kebutuhan pangan, sandang dan papan, walaupun kehidupan kami tidaklah mewah tapi cukup mapan untuk keluarga kami, denga lima anak yang masih kecil-kecil.
            Seiring berjalannya waktu, anak-anak tumbuh dan berkembang, mereka pun butuh asupan gizi dan pakaian yang layak, belum lagi biaya sekolah, walaupun ada yang gratis namun buku dan alat sekolah serta seragam tetap harus membeli sendiri. Aku terus berpikir dan berupaya keras untuk memenuhi kebutuhan mereka, juga kebutuhan pribadiku, aku pikir  uang tabungan peninggalan almarhum suami tak akan cukup untuk biaya hidup selama dua puluh tahun ke depan, mungkin hanya untuk beberapa tahun saja, padahal dua rumah milik kami di Bandung sudah kami jual.
            Banting setir!
            Inilah keputusan akhirku setelah merenung dan berdo’a memohon petunjuk Allah, aku hanya seorang guru honor di Sekolah Dasar yang gajinya hanya cukup untuk membeli dua puluh lima kilogram  beras seharga delapan ribu rupiah per kilogramnya, itu pun kalau gajinya tepat waktu, biasanya gaji dibagikan setelah dana BOS cair, yaitu tiga bulan sekali, aku tak bisa membayangkan jika aku hanya mengandalkan gajiku dari mengajar, keputusan yang banyak ditentang keluarga besar, karena aku sudah enam tahun mengabdi dan memiliki NUPTK, namun bagiku keputusan tetap ada di tanganku, karena akulah yang akan menjalani hidup ini dengan anak-anak, meskipun peran mereka sebagai keluarga besar sangatlah penting.
            Lalu apa yang harus aku lakukan?
Aku kembali termenung, seraya menghitung sisa uang tabunagn di Bank, ah... akhirnya Allah membuka pintu rizkinya untukku dan lima yatimku, seorang adik menawarkan aku untuk menjual beras hasil panen di kampungnya, harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan membeli di pasar dekat rumah, selain itu beras pun masih baru dan wangi, aku tak perlu capek membawanya ke rumahku, beras diantar sampai rumah, kumulai dengan menjual beras beberapa kwintal saja, alhamdulilah laku keras karena kualitas dan harga yang miring.
            Namun, hadangan demi hadangan mulai datang, usaha jualan berasku hampir bangkrut, masalahnya aku belum bisa mengelola uang dengan baik, aku masih mencampurkan uang modal usaha dan kebutuhan harian keluarga , sehingga ketika kiriman beras selanjutnya datang, uang modal sudah habis dipakai unttuk kebutuhan sehari-hari. Hadangan selanjutnya, ternyata di dekat rumahku ada seorang penjual beras dengan modal yang lebih besar, dia menjual beras lebih beragam dan lebih murah, otomatis pelangganku lari semua, apalagi jika Raskin tiba, sangat sepi jualanku!
            Lalu, kutata ulang cara berbisnisku, kutanya pada para ahli di grup IIDB ( Ibu-ibu Doyan Bisnis ) dan kucari peluang di internet, akupun membaca buku-buku bisnis yang ditulis para ibu hebat di IIDN ( Ibu-ibu Doyan Nulis ), tulisan mereka memacu adrenalinku, benar-benar melesat semangatku setelah membacanya, dan akupun mulai bangkit lagi. Kuambil modal baru untuk melanjutkan bisnis, jendela rumah kubongkar dan disulap menjadi warung, membuat spanduk, dan merelakan sebuah kamar menjadi gudang, bisnis beras mulai lancar lagi.
            Namun, masih juga ada kendala!
Setelah kuhitung dalam buku pembukuan sederhanaku, keuntungan dari menjual beras ternyata hanya sedikit, dari satu kilogram beras hanya seribu rupiah kuambil itupun maksimal, karena tekadang ada juga yang menawar jika mereka membeli dalam jumlah besar, belum lagi jika beras mulai berkutu dan apek, otomatis harga beras harus diturunkan. Aku pun mulai bimbang, seraya memanjatkan do’a pada sang Pemberi Rizki untuk tetap membimbingku supaya aku tidak tumbang. Teringat seorang teman muallaf keturunan Tiong Hoa bercerita, bahwa rizki yang kita dapatan bukan dari apa yang kita usahan namun dari yang kita sedekahkan, akupun mulai rajin bersedekah, alhmadulillah dahsyat! Rizki mulai mengalir, banyak ide dan masukan dari teman dan saudara, mereka menyarankan untuk menambah jenis beras yang kujual, dari hanya beras putih saja, kini diambah beras merah yang lagi banyak dicari karena manfaatnya, kemudian beras ketan hitam dan putih, dengan fariasi harga tentunya, sehingga aku dapat memperoleh keuntungan yang lebih.
Sudah puas? Tentu saja tidak!
Harga beras di pasaran sering tidak stabil, makanya keuntunganpun ikut naik turun, hal tersebut dipengaruhi kenaikan BBM atau panen yang gagal, namun aku tak gentar, tetap menjual beras dengan harga yang terjangkau, sehingga semua orang bisa membelinya, pelanggan semakin bertambah, namun keuntungan masih datar-datar saja, sedangkan kebutuhan hidup semakin merangkak, anak-anak pun mulai meminta ini itu karena tuntutan dari kebutuhannya di pesantren dan di sekolah. Apalagi menjelang pergantian tahun ajaran baru yang bertepatan dengan bulan suci ramadhan dan lebaran tahun ini, semua sangat menyita pikiranku, akupun harus IQRA! Membaca situasi dan kondisi di sekitarku, apa yang banyak dibutuhkan di waktu ramadhan dan tahun ajaran baru serta lebaran?, aha! Ting ting ting! Ide baru muncul setelah aku buka grup IIDB dan kulihat apa yang ditawarkan anggota di grup, sebagian dari mereka membuat aku tetarik untuk segera memesan barang dagangannya kemudin aku jual lagi di kotaku.
            Akupun mulai menjual barang lain disamping beras, warungku kutambah dengan kebutuhan pokok lainnya seperti gula merah, gula putih, mentega, telur, tepung terigu dan tepung kanji, di bulan ramadhan orang-orang banyak yang membutuhkan bahan-bahan untuk membuat kue. Gudangku pun dipenuhi oleh sejadah, mukena, baju, sarung, dan kebutuhan sandang untuk idul fitri lainnya, ditambah dengan produk lain yang lagi ‘trend’ yaitu Hanger Jilbab Organiser, Hanger Shoes Organiser, Hanger Bag Organiser, serta barang-barang elektronik dan barang kebutuhan rumah tangga lainnya untuk di kreditkan, dan lain sebagainya.
Hampir semua barang yang kujual kupesan secara on line, dari beras sampai hanger, hanya sesekali saja aku keluar rumah untuk mencari barang yang dipesan pembeli namun tidak ada di teman-teman IIDB, untuk pemasaran aku dibantu beberapa teman dan saudara, karena tidak mungkin untuk keluar rumah setiap hari, waktu sangat sempit terasa, karena harus membagi waktu untuk keluarga, bisnis dan menulis, dengan catatan aku harus mengontrol terus barang dan uang yang keluar masuk, membuat pembukuan untuk setiap barang, dan meretur barang yang tidak laku dan menggantinya dengan barang pesanan pembeli, sehingga modal tidak terlalu banyak dikeluarkan. Alhamdulillah semua berjalan lancar, hasilnya pun lumayan, cukup untuk membelikan anak-anak baju lebaran dan membayar biaya sekolah mereka.
Sekarang, sudah cukup puaskah?
Jawabannya belum! Seorang teman menasihati, “Ubah mind-set mu tentang bisnis!” maksudnya, aku harus mengubah mind-set ku tentang bisnis, aku tidak boleh puas dan berhenti sampai disini, dulu aku hanya berpikir, biarlah keuntunganya hanya cukup untuk makan sehari-hari, tapi temanku bilang, kita harus bepikir bahwa keuntungan itu harus bisa menambah modal usaha, membayar utang, membeli rumah, menyekolahkan anak sampai perguruan tinggi, membeli kendaran roda dua atau empat, membeli sawah, membuka usaha baru yang bisa membuka lapangan kerja baru, dan sebagainya!
            Ya! Aku setuju dengan perkataan teman, aku harus terus berpikir panjang dan berusaha semaksimal mungkin, anak-anak masih kecil, mereka butuh biaya tak sedikit untuk kebutuhan sehari-hari dan sekolahnya, dan tidak mungkin menggantungkan nasib dari belas kasih orang lain saja, aku harus membangun perekonomian keluarga untuk jangka panjang, biarlah orang lain mengatakan kalau impianku terlalu muluk, namun dengan harap dan cemas memohon kepada Allah Azza Wajalla untuk mengabulkannya. Impianku ke depan, aku harus punya lima usaha yang mudah-mudahan bisa membantu orang lain memiliki penghasilan, dan lima usaha ini harus diteruskan oleh lima anakku, jualan beras yang hanya skala kecil mudah-mudahan ke depannya menjadi skala besar atau grosir, membuka toko pakaian jadi, memiliki sawah yang hasilnya bisa memenuhi kebutuhan beras di toko, memiliki konveksi pakaian, dan toko kelontong, mumpung bermimpi masih gratis!.
            Namun tak mungkin aku memaksakan impianku pada anak-anak dan  mengacaukan cita-cita mereka yang masih kecil-kecil, aku pun suka iseng bertanya tentang cita-cita mereka kelak jika mereka dewasa. Di waktu senggang kami semua berkumpul dan berbagi cerita, si sulung bercerita kalau dia ingin menjadi dosen dan juga pebisnis, bakat bisnisnya sudah kelihatan, dia sering jualan makanan di asrama di pesantrennya, untunglah para ustadz sangat mendukungnya. Anak kedua sejak kecil cita-citanya tak pernah berubah, sejak di Taman Kanak-kanak, cita-citanya hanya satu, jadi anggota TNI AU, engga ada yang lain, akupun tidak bisa menghalangi keinginan besarnya walaupun aku tahu, jantungnya sedikit bermasalah, mudah-mudahan Allah menyehatkan jantungnya jika ia besar kelak, si Teteh, gadis kecilku satu-satunya, ingin jadi penulis dan ahli perbankan, syukurlah, dia memang pandai berhitung, dan rajin menulis di buku hariannya walaupun belum teratur, sedangkan duo unyu belum bisa menjawab apa-apa jika kutanya, mereka belum mengerti pertanyaanku, maklum keduanya masih batita.
            Setiap saat kulihat daganganku, semangatku melonjak-lonjak, ingat impianku dan juga cita-cita anak-anak, naluri bisnsiku semakin membumbung tinggi, berakar dan beranak pinak, menjalar kemana-mana, setiap hal ternyata bisa jadi lahan bisnis, asal kita mau dan ada kesempatan, namun bagi manusia pastilah sulit untuk mewujudkan impian atau cita-cita tersebut, namun bagi Allah semuanya pastilah mudah, asalkan berusaha semaksimal mungkin dan berdo’a yang rajin, kalau Allah berkehendak semua hanya dengan satu ucapan “Qun Fa yaqun!” ( Jadi! Maka jadilah ). Ayo Semangatttt!!!
Mudah-mudahn Allah memudahkan jalanku dalam membimbing, membiayai dan mendidik lima yatimku!
            Untuk janjiku pada almarhum suamiku,
            Inshaa Allah aku pasti bisa, tentunya dengan bimbingan Allah SWT, aammin!
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar